Bismillahirrohmanirrohim
……………………….
Assalamu
Alaikum Wr.Wb pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat
Tuhan YME atas berkat rahmatnyalah kita masih bisa hadir di tempat dan waktu ini,
yang terhormat kepada ibu guru serta para teman-teman sekalian yang berbahagia.
Saya hadir
disini yaitu menyampaikan sepatah dua kata dari pidato saya yang berjudul “krisis
kearifan lokal” tuk persembahan para pemuda-pemudi Wajo khususnya.
Saudara-saudari
sekalian seperti yang kita ketahui bahwa setiap bangsa, setiap daerah /
kelompok masyarakat dimanapun itu mereka pasti memiliki
suatu
cerminan dalam bertindak yang menjadi tolak ukur kaum tersebut yang dikenal
degan kearifan lokal termasuk kita sebagai generasi tanah wajo. Sebagai orang
bugis kita tidak asing dengan pepatah “siri’ na pesse”khususnya “maradeka
towajoe adena napopuang”,sebagai bukti kesuksesan pendahulu kita karena
menjunjung tinggi adat dan budaya sendiri. Maka tugas kita sebagai “the next
generation” yaitu melanjutkan kesuksesan dengan gaya pandang budaya kita
sendiri, Jepang saja bisa sukses dengan kearifan lokalnya.Tetapi fakta selalu
berkata jujur keadaan malah sebaliknya, pikiran kita gaya hidup semuanya
digerogoti oleh ganasnya roda waktu yang semakin menjadi-jadi dewasa ini.
Sebagaimana
yang telah ditengarai oleh orang banyak, globalisasi sebagai penyebab utama
telah menciptakan keparadoksaan pda dinamika kehidupan bermasayarakat,
berbangsa, dan bernegara di Indonesia khususnya Wajo dan kearifan lokalnya.
Globalisasi di satu sisi membuat masyarakat semakin homogeny (seragam) dalam
membentuk cara pandang masyarakat terhadap dunia(termasuk identitas, citra
diri, dan nilai-nilai hidup)kian berubah.Di sisi lain, globalisasi telah pula
melahirkan kesadaran baru akan terpinggirkannya nilai-nilai local oleh
pencitraan yang dialkukan secara masif Negara-negara maju sebagai pengusung
arus globalisasi itu sendiri.
Sayang,
kesadaran baru yang Antara lain melahirkan keyakinan bahwa kearifan lokal mampu
bertindak sebagai perisai pelindung dari bedil-bedil efek negative globalisasi
belum teraplikasikan secara baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sehingga
mengundang dampak timbulnya degradasi moral yang meluas secara cepat.Hal ini
terjadi Karena adanya penggunaan fasilitas-falisitas teknologi informasi yang terlalu bebas dan
tidak bertanggung jawab.Dampak lainnya yaitu bealih haluannya gaya bahasa
nilai-nali moril bekomuniakasi serasa terpiggirkan.
Menipisnya
nilai kesantunan berkomunikasi itu tidak hanya terlihat pada pilihan bahasa
yang digunakan, tetapi juga terlihat pada sikap dan perilaku berbahasanya.
Umumnya, karena tidak memiliki sikap dan perilaku berbahasa yang baik, mereka
abai terhadap kaidah dan sering memaksakan kehendak agar orang lain memahami
(bentuk) bahasa yang kadang kala justru bertentangan dengan keinginannya.
Dulu kita
masih akrab dengan senyum, sapa, dan salam sekarang kita sepertinya malu untuk
melakukannya apalagi membiasakan hal tersebut.Pertanyaannya sekarang adalah
sudahkan kita memelajari kearifan lokal secara sungguh-sungguh? Wallahualam
bissawab.
Soalnya,
seperti dikatakan: banyaknya terjadi konflik antar golongan, kelompok dan
etnis belakangan ini di Indonesia akibat makin menipisnya pemahaman terhadap
kearifan lokal yang tumbuh di masing-masing daerah.
Dan, andai
di sekeping kalbu kita menyelinap sepinjit kearifan (wisdom) itulah nilai moral
yang menyelinap dalam kearifan local.
Nilai
kearifan lokal akan memiliki makna apabila tetap menjadi rujukan dalam
mengatasi setiap dinamika kehidupan sosial, lebih-lebih lagi dalam menyikapi
berbagai perbedaan yang rentan menimbulkan konflik. Keberadaan nilai kearifan
lokal justru akan diuji ditengah-tengah kehidupan sosial yang dinamis. Di
situlah sebuah nilai akan dapat dirasakan.
Satu harapan
saya, marilah kita maju dengan identitas kita sendiri dengan penuh rasa bangga
.
saudara-saudari
sekalian itulah yang sempat terlintas dalam pikran saya, terima kasih ats
perhatiannya dan mohon maaf atas segala kesalahan saya.
Wabillahi
taufik Walhidayah Wassalamu Alaikum Wr.Wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar