PERIODISASI
SASTRA INDONESIA DAN KARYANYA
Indonesia kaya dengan karya sastra. mulai dari
Periode Pujangga lama sampai angkatan 2000-an. nah untuk tahu lebih
lanjut, saya paparkan semuanya dibawah ini.
1. PUJANGGA
LAMA
Pujangga lama merupakan bentuk
pengklasifikasikan karya sastra Indonesia yang dihasilkan sebelum abad ke-20,
pada masa ini karya sastra didominasi oleh syair, pantun, gurindam, dan
hikayat. Di Nusantara budaya melayu klasik dengan pengaruh Islam yang kuat
meliputi sebagian besar negara pantai Sumatra dan semenanjung malaya. Di
Sumatra bagian utara muncul karya-kaya penting berbahasa melayu terutama
karya-karya keagamaan.
Hamzah Pansuri adalah yang pertama
diantara penulis angkatan pujangga lama dari istana kesultanan Aceh pada abad
ke-17 muncul karya klasik selanjutnya yang paling terkenal adalah
karya Syamsudin Pasai dan Abdul Rauf
Singkir serta Nuruddin Arraniri.
· Karya
sastra pujangga lama
1. Hikayat
- Hikayat
Abdullah - Hikayat
Kalia dan Damina
- Hikayat
Aceh - Hikayat
masyidullah
- Hikayat
Amir
Hamzah - Hikayat
Pandawa jaya
- Hikayat
Andaken
Panurat - Hikayat
Panda Tonderan
- Hikayat
Bayan
Budiman - Hikayat
Putri Djohar Munikam
- Hikayat
Hang
Tuah - Hikayat
Sri Rama
- Hikayat
Iskandar Zulkarnaen - Hikayat Jendera Hasan
- Hikayat
Kadirun - Tasibul
Hikaya
2. Syair
- Syair
Bidasari
- Syair
Ken Tambuhan
- Syair
Raja Mambang Jauhari
- Syair
Raja Siam
3. Kitab
Agama
- Syarab
Al Asyidiqin (minuman para pecinta) oleh Hamzah Panzuri
- Asrar
Al-arifin (rahasia-rahasia gnostik) oleh Hamzah Panzuri
- Nur
ad-duqa’iq (cahaya pada kehalusan-kehalusan) oleh Syamsudin Pasai.
- Bustan
as-salatin (taman raja-raja) oleh Nuruddin Ar-Raniri.
2. SASTRA
MELAYU LAMA
Karya satra yang dihasilkan antara tahun
1870-1942 yang berkembang dilingkungan masyarakat sumatra seperti “Langkat,
Tapanuli, Minangkabau dan Sumatra lainnya”, orang Tionghoa dan masyarakat
Indo-Eropa. Karya sastra pertama yang terbit sekitar tahun 1870 masih dalam
bentuk syair, hikayat, dan terjemahan novel barat.
· Karya
Sastra Melayu Lama
- Robinson
Crousoe (terjemahan)
- Lawan-lawan
Merah
- Mengelilingi
Bumi Dalam 80 Hari (terjemahan)
- Grauf
de Monte Cristo (terjemahan)
- Rocambole
(terjemahan)
- Nyui
Dasima oleh G. Prancis (indo)
- Bung
Rampai oleh A.F. Bewali
- Kisah
Perjanan Nahkoda Bontekoe
- Kisah
Pelayaran ke Pulau Kalimantan
- Cerita
Siti Aisyah oleh H.F.R. Komer (indo)
- Cerita
Nyonya Kong Hong Nio
- Nona
Leonie
- Warna
Sari Melayu oleh Kat. S.J
- Cerita
Si Conat oleh F.D.J
3. ANGKATAN
BALAI PUSTAKA
Angkatan Balai Pustaka merupakan karya sastra
di Indonesia yang terbit sejak tahun 1920, yang dikeluarkan oleh penerbit “Bali
Pustaka”. Prosa (roman, novel,cerpen, dan drama) dan puisi mulai menggantikan
kedudukan mulai menggantikan kedudukan syair, pantun, gurindam, hikayat, dan
kazhanah sastra di Indonesia pada masa ini
Balai Pustaka didirikan pada masa itu untuk
mencegah pengaruh buruk dari bacaan cabul dan liar yang dihasilkan sastra
melayu rendah yang tidak menyoroti pernyaian (cabul) dan dianggap memiliki misi
politis (liar). Balai Pustaka menerbitkan karya dalam 3 bahasa yaitu bahasa
Melayu tinggi, bahasa Jawa, dan bahasa Sunda, dan dalam jumlah yang terbatas
dalam bahasa Bali, bahasa Batak, dan bahasa Madura.
“Nur Sultan Iskandar” dapat disebut sebagai
“raja angkatan balai pustaka” karna karya-karya tulisnya pada masa tersebut.
Apabila dilihat daerah asal kelahiran para pengarang, dapat dikatakan bahwa
novel-novel Indonesia yang terbit pada angkatan ini adalah novel
Sumatera dengan Minangkabau sebagai titik pusatnya.
Pada masa ini novel “Siti Nurbaya, dan Salah
Asuhan” menjadi karya cukup penting, keduanya mengkritik adat-istiadat dan
tradisi kolot yang membelenggu.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan Balai Pustaka
1. Merari
Siregar
- Azab
dan Sengsara (1920)
7- Binasa
Karna Gadis Priangan (1931)
- Cinta
dan Hawa Nafsu
2. Marah
Roesli
- Siti
Nurbaya (1922)
- Laihami
(1924)
- Anak
dan Kemanakan (1956)
3. Muhammad
Yamin
- Tanah
Air (1922)
- Indonesia
Tumpah Darahku (1928)
- Kalau
Dewi Tara Sudah Berkata
- Ken
Arok dan Ken Dedes (1934)
4. Nur
Sultan Iskandar
- Apa
Dayaku Karna Aku Seorang Perempuan (1923)
- Cinta
Yang Membawa Maut (1926)
- Salah
Pilih (1928)
- Tuba
Dibalas Dengan Susu (1933)
- Hulubalung
Raja (1934)
- Katak
Hendak Menjadi Lembu.
5. Lulis
Sutan Suti
- Tak
Disangka (1923)
- Sengsara
Membawa Nikmat (1928)
- Tak
Membalas Guna (1932)
- Memutuskan
Pertalian (1932)
6. Djamaluddin
Adinegoro
- Dara
Muda (1927)
- Asmara
Jaya (1928)
- Abas
Soetan Pamoentjak
- Pertemuan
(1927)
7. Abdul
Muis
- Salah
Asuhan (1928)
- Pertemuan
Jodoh (1933)
8. Aman
Datuk Madjoindo
- Menebus
Dosa (1932)
- Sicebol
Merindukan Bulan (1934)
- Sampaikan
Salamku Kepadanya (1935)
4. PUJANGGA
BARU
Pujangga Baru muncul sebagai reaksi atas
banyaknya sensor yang dilakukan oleh Balai Pustaka terhadap karya tulis
sastrawan pada masa tersebut, terutama terhadap karya sastra yang menyangkut
rasa nasionalisme dan kesadaran kebangsaan. Sastra Pujangga Baru adalah sastra
intelektual, nasionalistik, dan elistik.
Pada masa itu, terbit pula majalah pujangga
baru yang dipimpin oleh Sutan Takdir Alisyahbana, beserta Amir
Hamzah dan Armijn Pane. Karya sastra Indonesia setelah zaman Balai
Pustaka (tahun 1930–1942), dipelopori oleh Sutan Takdir Alisjahbana.
Karyanya layar terkembang, menjadi salah satu novel yang sering diulas oleh
para kritikus sastra Indonesia. Selain Layar Terkembang, pada periode ini
novel Tengelamnya Kapal Vander Wijck dan Kalau Tak
Untung menjadi karya penting sebelum perang.
Pada masa ini dua kelompok sastrawan Pujangga
Baru yaitu :
1. Kelompok “Seni Untuk
Seni” yang dimotori oleh Sanusi Pane dan Tengku Amir Hamzah.
2. Kelompok “Seni Untuk
Pembangunan Masyarakat” yang dimotori oleh Sutan Takdir Alisjahbana,
Armijn Pane, dan Rustam Effendi.
· Penulis
dan Karya Sastra Pujangga Baru
1. Sutan
Takdir Alisjabana
- Dian
Tak Kunjung Padam (1932)
- Tebaran
Mega- kumpulan sajak (1935)
- Layar
Terkembang (1936)
- Anak
Perawan di Sarang Penyuman (1940)
2. Hamka
- Di
Bawah Lindungan Ka’bah (1938)
- Tenggelamnya
Kapal Van Der Wijck (1939)
- Tuan
direktur (1950)
- Di
Dalam Lembah Kehidupan (1940)
3. Armijn
Pane
- Jiwa
Berjiwa Gamelan Djiwa- kumpulan sajak (1960)
- Djinak-djinak
Merpati- sandiwara (1950)
- Kisah
Antara Manusia (1953)
4. Sanusi
Pane
- Pancaran
Cinta (1926)
- Puspa
mega (1927)
- Sandhykala
Ning Majapahit (1933)
- Kertajaya
(1932)
5. Tengku
Amir Hamzah
- Nyanyi
Sunyi (1937)
- Begawat
Gita (1933)
- Setanggi
Timur (1939)
5. ANGKATAN
1945
Pengalaman hidup dan gejolak
sosial-politik-budaya telah mewarnai karya sastrawan Angkatan “45. Karya sastra
angkatan ini lebih realistik dibanding karya Angkatan Pujangga Baru yang
romantik-idealistik. Karya-karya sastra pada angkatan ini banyak bercerita
tentang perjuangan merebut kemerdekaan seperti halnya puisi-puisi Chairil
Anwar. Sastrawan angkatan “45 memiliki konsep yang diberi judul “Surat
Kepercayaan Gelanggang” konsep ini menyatakan bahwa para sastrawan angkatan “45
ingin bebas berkarya sesuai alam kemerdekaan dan hati nurani. Selain Tiga
Menguak Takdir dari Ave Maria ke Jalan Lain ke
Roma dan Atheis dianggap sebagai karya pembaharuan prosa
Indonesia.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan 1945
1. Chairil
Anwar
- Kerikil
Tajam (1949)
- Deru
Campur Debu (1949)
2. Asrul
Sani, bersama Rivai Apin dan Chairil Anwar
- Tiga
Menguak Takdir (1950)
3. Idrus
- Dari
Ave Maria ke Djalan Lain ke Roma (1948)
- Aki
(1949)
- Perempuan
Dan Kebangsaan
4. Achdiat
K. Mihardja
- Atheis
(1949)
5. Trisno
Sumardjo
- Katahati
dan Perbuatan (1952)
6. Utuy
Tatang Sontani
- Suling
(drama) (1948)
- Tambera
(1949)
- Awal
dan Mira – drama satu babak (1962)
7. Suman Hs
- Kasih
ta’ Terlarai (1961)
- Mentjari
Pentjuri Anak Perawan (1957)
- Pertjobaan
Setia (1940)
6. ANGKATAN
1950-1960-an
Angkatan ’50-an ditandai dengan terbitnya
majalah sastra Kisah Asuhan H.B. Jassin. Ciri angkatan ini adalah karya
sastra yang didominasi oleh cerita pendek dan kompulan puisi. Majalah tersebut
bertahan sampai tahun 1956 dan diteruskan dengan majalah sastra lainnya,Sastra.
Pada angkatan ini muncul gerakan komunis di
kalangan sastrawan, yang bergabung dalam Lembaga Kebudajaan Rakjat (lekra) yang
berkonsep sastra Realisme-Sosialis. Timbulnya perpecahan dan polemik yang
berkepanjangan di kalangan sastrawan Indonesia pada awal tahun 1960,
menyebabkan mandegnya perkembangan sastra karna masuk ke dalam politik praktis
dan berakhir pada tahun 1965 dengan pecahnya G30S di Indonesia.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan 1950 – 1960-an
1. Pramoedya
Ananta Toer
- Keranji
dan Bekasi Jatuh (1947)
- Bukan
Pasar Malam (1951)
- Di
Tepi Kali Bekasi (1951)
- Keluarga
Gerilya (1951)
- Mereka
Yang Dilumpuhkan (1951)
- Cerita
Dari Blora (1952)
- Gadis
Pantai (1965)
2. Nh. Dini
- Dunia
Dunia (1950)
- Hati
Jang Damai (1960)
3. Sitor
Situmorang
- Dalam
Sadjak (1950)
- Djalan
Mutiara: kumpulan tiga sandiwara (1954)
- Pertempuran
dan Saldju di Paris (1956)
- Surat
Kertas Hidjau: kumpulan sadjak (1953)
- Wadjah
Tak Bernama: kumpulan sadjak (1955)
4. Muchtar
Lubis
- Tak
Ada Esok (1950)
- Jalan
Tak Ada Ujung (1952)
- Tanah
Gersang (1964)
- Si
Djamal (1964)
5. Marius
Ramis Dayoh
- Putra
Budiman (1951)
- Pahlawan
Minahasa (1957)
6. Ajip
Rosidi
- Tahun-tahun
Kematian (1955)
- Di
Tengah Keluarga (1956)
- Sebuah
Rumah Untuk Hari Tua (1957)
- Cari
Muatan (1959)
- Pertemuan
Kembali (1961)
7. Ali
Akbar Navis
- Robohnya
Surau Kami- 8 cerita pendek pilihan (1955)
- Bianglala-
kumpulan cerita pendek (1963)
- Hujan
Panas (1964)
- Kemarau
(1967)
7. ANGKATAN
1966 – 1970-an
Angkatan ini ditandai dengan terbitnya Horison
(majalah sastra) pimpinan Muchtar Lubis. Semangat avant-garde sangat
menonjol pada angkatan ini. Banyak karya sastra pada angkatan ini yang sangat
beragam dalam aliran sastra dengan munculnya karya sastra beraliran
surealistik, arus kesadaran, arketip, dan absurd. Penerbitan Pustaka Jaya
sangat banyak membantu dalam menerbitkan karya-karya sastra pada masa ini.
Sastrawan pada angkatan 1950-an yang juga termasuk dalam kelompok ini
adalah Montiggo Busye, Purnawan Tjondronegoro, Djamil Suherman, Bur
Rusanto, Goenawan Mohamad, dan Satyagraha Hoerip Soeprobo dan termasuk
paus sastra Indonesia H.B. Jassin.
Beberapa sastrawan pada angkatan ini antara
lain : Umar Kayam, Ikranegara, Leon Agusta, Arifin C.Noer, Darmanto
Jatman, Arif Budiman, Goenawan Muhamad, Budi Darma, Hamsat Rangkuti, Putu
Wijaya, Wisran Hadi, Wing Kardjo, Taufik Ismail, DLL.
· Penulis
Dan Karya Sastra Angkatan 1966
1. Taufik
Ismail
- Malu
(Aku) Jadi Orang Indonesia
- Tirani
dan Benteng
- Buku
Tamu Musim Perjuangan
- Sajak
Ladang Jagung
- Kenalkan
- Saya
Hewan
- Puisi-puisi
Langit
2. Sutardji
Calzom Bachri
- O
- Amuk
- Kapak
3. Abdul
Hadi WM
- Meditasi
(1976)
- Potret
Panjung Pengunjung Pantai Sanur (1975)
- Tergantung
Pada Angin (1977)
4. Supardi
Djoko Damono
- Dukamu
Abadi (1969)
- Mata
Pisau (1974)
5. Goenawan
Muhamad
- Perikesit
(1969)
- Interlude
(1971)
- Potret
Seorang Penyair Muda Sebagai Simalin Kundang (1972)
- Seks,
Sastra, dan Kita (180)
6. Umar
Kayam
- Seribu
Kunang-kunang di Manhattan
- Sri
Sumara dan Bawuk
- Lebaran
Di Karet
- Pada
Suatu Saat di Bandar Sangging
- Kelir
Tanpa Batas
- Para
Priyayi
- Jalan
Manikung
7. Danarto
- Godlob
- Adam
Makrifat
- Berhala
8. Nasjah
Djamin
- Hilanglah
Si Anak Hilang (1963)
- Gairah
Untuk Hidup dan Mati (1968)
9. Putu
Wijaya
- Bila
Malam Bertambah Malam (1971)
- Telegram
(1973) - Pabrik
- Stasiun
(1977) - Gres dan Bom
8. ANGKATAN
1980 – 1990-an
Karya sastra Indonesia pada kurun waktu
setelah tahun 1980, ditandai dengan banyaknya roman percintaan, dengan
sastrawan wanita yang menonjol pada masa tersebut yaitu Marga T. Karya
sastra Indonesia pada angkatan ini tersebar luas di berbagai majalah dan
penerbitan umum.
Beberapa sastrawan yang dapat mewakili
angkatan dekade 1980-an antara lain adalah : Rami Sylado,Yudistria
Ardinugraha, Noorca Mahendra, Seno Gumira Aji Darma, Pipiet Senja, Kurniawan
Junaidi, Ahmad Fahrawie, Micky Hidayat, Arifin Noor Hasby, Tarman Efendi
Tarsyad, Noor Aini Cahaya Khairani, dan Tajuddin Noor Ganie.
Nh. Dini (Nurhayati Dini) adalah
sastrawan wanita Indonesia lain yang menonjol pada dekade 1980-an dengan
beberapa karyanya antara lain: Pada Sebuah Kapal, Namaku Huriko, La Barka,
Pertemuan Dua Hati, dan Hati Yang Damai. Salah satu ciri khas yang
menonjol pada novel-novel yang ditulisnya adalah kuatnya pengaruh dari budaya
barat, dimana tokoh utama biasanya mempunyai konflik dengan pemikiran timur.
Mira W dan Marga T adalah dua
sastrawan wanita Indonesia yang menonjol dengan fiksi romantis yang menjadi
ciri-ciri novel mereka. Pada umumnya tokoh utama pada novel mereka adalah
wanita. Bertolak belakang dengan novel-novel Balai Pustaka yang masih
dipengaruhi oleh sastra Eropa abad ke-19 dimana tokoh utama selalu dimatikan
untuk menonjolkan rasa romantisme dan idealisme, karya-kaya pada era 1980-an
biasanya selalu mengalahkan peran antagonisnya.
Namun yang tak boleh dilupakan, pada era
1980-an ini juga tumbuh sastra yang beraliran pop, yaitu lahirnya sejumlah
novel populer yang dipelopori oleh Hilman Hariwijayadengan
serial Lupusnya. Justru dari kemasan yang ngepop inilah diyakini tumbuh
generasi gemar baca yang kemudian tertarik membaca karya-karya yang lebih dan
berat.
Ada nama-nama terkenal muncul dari komunitas
Wanita Penulis Wanita yang dikomandoi Titie Said, antara lain: La
Rose, Lastri Fardanhi, Diah Hadaning, Yvonne De Fretes, dan Oka
Rusmini.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan 1980 – 1990-an
1. Ahmadun
Yosi Herfanda
- Ladang
Hijau (1980)
- Sajak
Penari (1990)
- Sebelum
Tertawa Dilarang (1997)
- Fragmen-fragmen
Kekalahan (1997)
- Sembahyang
Rerumputan (1997)
2. Y.B
Mangunwijaya
- Burung-burung
Manyar (1981)
3. Darman
Moenir
- Bako
(1983)
- Dendang
(1988)
4. Budi
Darma
- Olenka
(1983)
- Rafilus
(1988)
5. Sundhunata
- Anak
Bajang Menggiring Angin (1984)
6. Arswendo
Atmowilito
- Canting
(1986)
7. Hilman
Hariwijaya
- Lupus
– 28 novel (1986-2007)
- Lupus
Kecil – 13 novel (1989-2003)
- Olga
Sepatu Roda (1992)
- Lupus
ABG – 11 novel (1995- 2005)
8. Dorothea
Rosa Herliany
- Nyanyian
Gaduh (1987)
- Matahari
Yang Mengalir (1990)
- Kepompong
Sunyi (1993)
- Nikah
Ilalang (1995)
- Mimpi
Gugur Daun Zaitun (1999)
9. Gustaf
Rizal
- Segi
Empat Patah Sisi (1990)
- Segitiga
Lepas Kaki (1991)
- Ben
(1992)
- Kemilau
Cahaya dan Perempuan Buta (1999)
10. Remy Silado
- Ca
Bau Kan (1999)
- Kerudung
Merah Kirmizi (2002)
11. Afrizal Malna
- Tonggak
Puisi Indonesia Modern 4 (1987)
- Yang
Berdiam Dalam Mikrofon (1990)
- Cerpen-cerpen
Nusantara Mutakhir (1991)
- Dinamika
Budaya dan Politik (1991)
- Arsitektur
Hujan (1995)
- Pistol
Perdamaian (1996)
- Kalung
Dari Teman(1998)
9. ANGKATAN
REFORMASI
Seiring terjadinya pergeseran kekuasaran
politik dari tangan Soeharto ke BJ Habibie lalu KH Abdulrahman Wahid
(Gusdur) dan Megawati Soekarno Putri, muncul wacana tentang “Sastrawan Angkatan
Reformasi”. Munculnya angkatan ini ditandai dengan maraknya karya-karya sastra,
puisi, cerpen, maupun novel yang bertema sosial-politik, khususnya seputar
Reformasi. Di rubik sastra harian Repoblika misalnya, selama berbulan-bulan
dibuka rubik sajak-sajak peduli Bangsa atau sajak-sajak reformasi. Berbagai
pentas pembacaan sajak dan penerbitan buku antologi puisi juga didominasi
sajak-sajak bertema sosial-politik.
Sastrawan angktan Reformasih merefleksikan
keadaan sosial dan politik yang terjadi pada akhir tahun 1990-an, seiring
dengan jatuhnya Orde Baru. Proses Reformasi politik yang dimulai pada tahun
1998 banyak melatarbelakangi kelahiran karya-karya sastra, puisi, cerpen dan
novel pada masa itu. Bahkan penyair-penyair yang semula jauh dari tema-tema
sosial-politik, seperti Sutardji Calzoum Bachri, Ahmadun Yosi Herfanda,
Acep zamzam Noer,dan Hartono Beny Hidayat dengan media
online: duniasastra.com-nya , juga ikut meramaikan suasana dengan
sajak-sajak sosial-politik mereka.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan Reformasi
1. Widji
Thukul
- Puisi
Pelo
- Darman
10. ANGKATAN 2000-an
Setelah wacana tentang lahirnya sastrawan
Angkatan Reformasih muncul, namun tidak berhasil dikukuhkan karna tidak
memiliki juru bicara, Korrie Layun Rampan pada tahun 2002 melempar
wacana tentang lahirnya “Angkatan 2000”. Sebuah buku tebal tentang angkatan
2000 yang disusunnya diterbitkan oleh Gramedia, Jakarta pada tahun 2002.
Seratus lebih penyair, cerpenis, novelis, eseis, dan kritikus sastra dimasukkan
Korrie ke dalam angkatan 2000, termasuk mereka yang sudah mulai menulis sejak
1980-an, seperti Afrizal Malna, Ahmad Yosi Herfanda, dan Seno Gumira
Ajidarma, serta yang muncul pada 1990-an seperti Ayu
Utami, dan Dhorotea Rosa Herliany.
· Penulis
dan Karya Sastra Angkatan 2000
1. Ayu
Utami
- Saman
(1998)
- Larung
(2001)
2. Seno
Gumira Ajidarma
- Atas
Nama Malam
- Sepotong
Senja Untuk Pacarku
- Biola
Tak Berdawai
3. Dewi
Lestari
- Supernova
1: Ksatria Putri dan Bintang Jatuh (2001)
- Supernova
2.1: Akar (2002)
- Supernova
2.2: Petir (2004)
4. Raudal
Tanjung Banua
- Pulau
Cinta di Peta Buta (2003)
- Ziarah
Bagi Yang Hidup (2004)
- Perang
Tak Berulu (2005)
- Gugusan
Mata Ibu (2005)
5. Habiburrahman
El Shirazy
- Ayat-ayat
Cinta (2004)
- Di
Atas Sajadah Cinta (2004)
- Ketika
Cinta Berbuah Surga (2005)
- Pudarnya
Pesona Cleopatra(2005)
- Ketika
Cinta Bertasbih 1 (2007)
- Ketika
Cinta Bertasbih 2 (2007)
- Dalam
Mihrab Cinta (2007)
6. Andrea
Hirata
- Laskar
Pelangi (2005)
- Sang
Pemimpi (2006)
- Edensor
(2007)
- Maryamah
Karpov (2008)
- Padang
Bulan dan Cinta Dalam Gelas (2010)
7. Ahmad
Faudi
- Negeri
Lima Menara (2009)
- Ranah
Tiga Warna (2011)
8. Tosa
- Lukisan
Jiwa (puisi) (2009)
- Melan
Conis (2009)
11. CYBERSASTRA
Era internet memasuki komunitas sastra di
Indonesia. Banyak karya sastra Indonesia yang tidak dipublikasi melalui buku
namun termagtub di dunia maya (internet), baik yang dikelola resmi oleh
pemerintah, organisasi non-profit, maupun situs pribadi. Ada beberapa sistus
Sastra Indonesia di dunia maya misalnya: duniasastra.com.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar